Alamak…TBS Cuma Dihargai Rp 1000

TBS
ilustrasi pendistribusian sawit ke pabrik

RASELNEWS.COM, BENGKULU SELATAN – Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) semakin hari semakin jauh dari harapan. Saat ini harga TBS hanya Rp dihargai 1000 per kilogram di pabrik kelapa sawit (PKS).

Penurunan harga ini membuat petani kian panik lantaran semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi dengan harga sembako kian meningkat tajam.

Selain harganya tidak kunjung melejit, aturan penjualan TBS di PKS sekarang ini kian ketat. Petani diharuskan memanen TBS yang betul-betul matang atau sudah berondolan setidaknya dua hingga empat butir per TBS. Jika tidak, maka TBS milik petani tidak akan laku di PKS alis ditolak.

TRENDING  Waspadai Bencana Hidrometeorologi

“Harga terbaru yang dijual, hanya Rp 850 per kilogram. Kami menjual TBS melalui pengepul karena tidak punya kendaraan khusus untuk menjual TBS langsung ke pabrik,” ujar Halimin (48) petani sawit di Kecamatan Pino Raya kepada Rasel kemarin (20/6).

Halimin mengaku, anjloknya harga sawit juga dibarengi dengan menurunnya hasil panen. Jika sebelumnya per hektar kebun sawit dapat menghasilkan 1 – 1,5 ton TBS. Sekarang hanya 800 – 900 kilogram saja. Ini lantaran pohon sawit memasuki masa trek.

“Setahun itu ada satu kali trek, nah ini sedang mau masuk masa itu. Seharunya masa ini bisa dilalui dengan pemupukan yang maksimal. Tapi harga pupuk sekarang ini melangit, sementara harga jual TBS turun drastis,” keluhnya. Senada dikatakan Aprianto (45) petani sawit lainnya.

TRENDING  Dua Pekerja Karaoke Terinfeksi Penyakit Menular

Diakui Aprianto, menurunnya harga sawit saat ini dapat mengancam ekonomi masyarakat petani. Sebab, petani hanya menggantungkan penghasilan dari penjualan TBS. Baik angsuran bank, biaya sekolah anak hingga biaya rumah tangga.

“Kalau melihat situasi sekarang ini, mendingan kami jadi pemanen sawit saja. Sebab, upah panen tidak menurun dan tetap diangka Rp 250 per kilogram. Coba bayangkan jika sawit kami hanya menghasilkan 600 kilogram TBS saja, berarti uang didapat sudah hampir bagi dua dengan pemanen,” ucapnya.

Untuk itu, Pemkab BS harus turun tangan dan bisa memberikan solusi tepat. Jika alasannya hanya karena CPO milik PKS sulit dipasarkan, harusnya Pemkab bisa membantu hambatan tersebut dengan melakukan lobi pasar ataupun berkoordinasi dengan pusat.

TRENDING  PMI Hadirkan Bank Darah Setiap Desa

“Sekarang petani ini dilema, jika tidak dipanen maka pohon akan rusak. Jika tetap dipanen, hasil yang didapat tidak sebanding dengan pengeluaran. Harapan besar kami hanyalah kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan. Harusnya hasil pertanian dan perkebunan diprioritaskan karena mayoritas masyarakat BS ini adalah petani,” pungkasnya. (rzn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.